MEDAN

Nasehat...

.“(Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas? Tidak ada yang dapat menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl:79") .“(menang dengan mengalah, itulah filsafat air dalam mengarungi kehidupan") .(Guru yang paling besar adalah pengalaman yang kita lewati dan rasakan sendiri) .(HIDUP INI MUDAH, BERSYUKURLAH AGAR LEBIH DIMUDAHKAN ALLAH SWT)

Bismillahirrahmanirrahim

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas? Tidak ada yang dapat menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl:79)

Selasa, 18 Januari 2011

Peran dan Posisi GMPI

Dalam sejarah panjang bangsa ini, pemuda telah mencatatakan namanya dengan tinta emas sebagai motor penggerak perubahan. Di seluruh perubahan yang terjadi di negeri ini, pemuda selalu berada di garda terdepan dengan semangat dan pengorbanan yang tulus. Di era perang kemerdekaan, pemuda tampil sebagai pembakar semangat persatuan dan kesatuan serta kekuatan loyalitas. Hal itu ditandai dengan lahirnya sumpah pemuda 28 Oktober 1928 silam. Saat para penjajah masih bercokol di bumi Nusantara ini, pemuda juga ikut aktif berjuang secara fisik dan mengangkat senjata untuk mewujudkan kemerdekaan. Tidak sedikit pula kaum muda yang mati sahid membela negara dan kehilangan harta benda demi sebuah cita-cita kebebasan. Semboyan Merdeka atau Mati, merupakan pelecut semangat kaum muda untuk tetap meneguhkan hati demi membebaskan negeri ini dari penindasan penjajah. Seakan tidak lekang di terpa teriknya mentari, tidak patah arang melihat prilaku pemimpin bangsa yang menjelma menjadi penguasa, pemuda tetap pada pendirian tidak akan pernah berhenti memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki bagi seluruh rakyat Indonesia. Pasca lengsernya rezim HM Soeharto yang diperjuangkan para pemuda, lahirnya era reformasi yang bertujuan menempatkan kembali pemimpin bangsa pada tujuan awal kemerdekaan, yakni mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia, mencerdaskan kehidupan berbangsa. dan ikut mewujudkan perdamaian dunia. Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI) yang dilahirkan Partai Persatuan Pembanunan (PPP) pada 18 Oktober 1993 silam, tentu sebagai bagian dari generasi muda bangsa tentu juga harus ikut berperan aktif dalam mewujudkan perubahan yang lebih baik. Karena memang, tujuannya dilahirkannya untuk menjadi salah satu kekuatan di antara kekuatan kelompok generasi muda yang mempu memberikan kontribusi bagi negeri khususnya bagi kaum muda. Secara umum, tidak dapat dinafikan bahwa GMPI telah banyak berperan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlepas besar kecilnya peran yang telah dilakukan, namun kesemua peranan itu tentu memberi manfaat. Bahwa sebagai generasi penerus, pemegang estapet kepemimpinan dan calon pemimpin masa depan GMPI sudah melakukan kerja-kerja ril di tengah-tengah masyarakat, sama seperti kelompok kepemudaan lainnya. Namun ke depan GMPI perlu menegaskan posisinya yang ideal dalam ranah kekuatan pemuda dan tentunya sebagai bagian dari PPP. GMPI harus berani bersikap tegas menyampaikan aspirasi, keinginan dan mengeluarkan kebijakan, sehingga seluruh pemangku kepentingan kelompok pemuda tidak memandang GMPI secara abu-abu.Sehingga ke depan ada komitmen bersama memandang peran ideal GMPI, baik oleh elit pemuda, pemerintahan maupun elit partai pollitik. Peran GMPI Sebagai salah satu kekutan kelompok pemuda, harusnya GMPI mengambil peran yang berkaitan langsung dengan pembangunan kepemudaan. GMPI di level apa saja, harus tetap menyuarakan kepentingan dan kebutuhan para pemuda. GMPI juga tak boleh tinggal diam jika kepentingan pemuda diabaikan pemerintah dan oleh siapapun. Di antara peran yang harus dilakukan GMPI adalah mendorong pemerintah dan kalangan politik untuk membuat regulasi yang berpihak pada pemuda. Melakukan kerja-kerja strategis sebagai langkah konkrit membangun kemandirian, kualitas dan kreatifitas pemuda. Melakukan upaya dan kebijakan yang mampu mendorong seluruh pemuda untuk terlibat aktif dalam merealisasikan program pembangunan, terutama berkaitan erat dengan kepentingan pemuda itu sendiri. Upaya-upaya itu dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai pelatihan dan pendidikan, seminar, diskusi, penelitian dan lain sebagainya. Baik yang bertujuan untuk menciptakan kemandirian, peningkatan kualitas sumber daya manusia, maupun program yang bertujuan untuk menciptakan pemuda ideal. Dalam artian, pemuda tidak boleh hanya menunggu, tapi harus jemput bola. Karena sesungguhnya, tidak ada satu pihak yang akan peduli dan berpihak pada pemuda, sebelum ada yang memulai. Peran itulah yang harus dikuatkan GMPI. Selain berperan mendukung pelaksanaan program pembangunan dan kepemudaan, GMPI tidak boleh lupa pada orang yang melahirkannya yakni PPP. Sebagai sayap PPP, peran yang harus diambil GMPI adalah melakukan kerja-kerja yang bermuara pada pengutan PPP di tengah-tengah masyarakat. Karena memang PPP adalah partai politik berazaskan Islam dan berlambang Ka'bah. Maka GMPI dalam setiap aktifitasnya tidak boleh jauh dari upaya penguatan idioligi dan syiar Islam. GMPI harus berbicara dalam tataran pembenahan etika dan moralitas kaum muda, dimana saat ini sudah berada di tebing dan jurang kebobrokan. GMPI juga harus berpikir melahirkan program yang mampu mengangkat dan menyelamatkan kembali budaya-budaya Islam, sehingga ada perbandingan dan iktibar bagi kaum muda untuk memilih budaya yang akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Posisi GMPI Posisi pemuda di berbagai bidang kehidupan sebenarnya sangat strategis. Justru itu, posisi-posisi yang memungkinkan diambil dalam rangka membangun kaum muda, GMPI tdaik boleh mengabaikannya dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak lain. Posisi di organisasi wadah pemuda (KNPI), Lembaga Swada Masyarakat dan Pemerintahan harus direbut, dengan komitmen saat dipercaya menjadi nakoda maka harus dijalankan dengan maksimal sehingga meraih hasil yang maksimal pula. GMPI jangan malu berada pada posisi sebagai pengusaha, jurnalis, aktivis, abdi negara, ulama, da'i, akademisi, militer, polisi, olahragawan dan politisi serta posisi lain yang diyakini mampu memberi ruang untuk membangun generasi muda. GMPI juga dapat memposisikan diri sebagai pathner bagi pemerintah, kaum intlektual, rohaniawa dan politisi. namun disisi lain, GMPI juga jangan ragu untuk memposisikan diri sebagai kelompok oposisi bagi siapapun yang berupaya menelantarkan generasi muda. Dengan peran dan posisi strategis yang dimiliki, ke depan GMPI diharapkan mampu menjadi panutan, tauladan dan pembawa semangat kerja keras serta iklas untuk membangun bangsa dan negara yang aman, makmur dan rakyat sejahtera. Termasuk memberi kontribusi penting sebagai satu-satunya wadah aspirasi umat Islam di Indonesua. Amin ya Robbal Alamin.

Senin, 10 Januari 2011

Kader GMPI Ibarat Sebatang Kayu

TIDAK terasa, masa bakti kepengurusan Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI) Sumatera Utara Periode 2005-2010 sudah berakhir, dan tidak lama lagi prosesi suksesi kepemimpinan akan dilangsungkan 29-20 Januari 2011. Dalam kurun waktu lima tahun, para punggawa PW GMPI Sumut telah mencurahkan dedikasi, kinerja serta seluruh potensi yang dimiliki demi menorehkan tinta emas untuk PW GMPI Sumut sebagai salahsatu sayap Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Terlepas dari penilaian baik atau buruk pada kinerja pengurus GMPI selama lima tahun, tentu harus diberikan apresiasi. Seperti kata pepatah “Ada ubi ada talas, ada budi ada balas”. Meskipun penting untuk digaris bawahi bahwa apapun dan siapapun yang telah memberikan sesuatu kepada GMPI, tidak pantas untuk menagih imbalan dalam bentuk apapun. Sebab, apa yang telah dilakukan untuk GMPI, merupakan bagian dari tanggungjawabnya sebagai seorang pengurus yang menerima amanah dari organisasi. Bicara karir politik pengurus GMPI di seluruh tingkatan, secara garis lurus, pasti berafiliasi kepada PPP yang telah melahirkannya. GMPI yang diposisikan sebagai sayap partai, tentu bagi pengurusnya yang berkeinginan menempuh jalur politik, maka alirannya harus melalui PPP. Pertanyaannya kemudian, sudahkah PPP memberi ruang dan tempat bagi kader-kader GMPI untuk meniti karir politik. Dan sudahkan PPP memposisikan GMPI sebagai sayap partai yang bekerja untuk mendorong penguatan PPP ditingkat basis pemilih, di tempat yang selayaknya. Atau, sudahkan PPP memberikan perhatian sungguh-sungguh terhadap kader GMPI dan sayap partai lainnya, sebagaimana posisi yang telah diberikan? Pertanyaan di atas adalah bagian dari curahan dan kegalauan hati seluruh kader GMPI. Sebab, kader GMPI terlanjur telah menaruh asa atau harapan yang besar pada PPP agar dikemudian hari diberi ruang dan tempat untuk dapat berkontribusi membesarkan PPP serta meniti karir politik. Secara jujur, asa tersebut sesungguhnya belum sejalan dengan realita yang ada. Kader-kader GMPI masih harus berjibaku dan berjuang sendiri agar tetap survive berkiprah di pentas politik. *** Asa Kader GMPI Setiap kader GMPI, tentu memiliki harapan besar akan menjadi bagian penting di jajaran fungsionaris PPP. Harapan ini dilatarbelakangi bahwa seluruh aktifitas dan gerak langkah GMPI di tengah-tengah umat, muaranya dalam rangka membesarkan PPP. Inklud di dalamnya kebijakan program dan kebijakan politik pun tidak boleh keluar dari garis PPP. Atas dasar itu, para kader GMPI terus berupaya melakukan berbagai terobosan, kreatifitas dan inovasi guna mendongkrak posisi PPP, baik pencitraan maupun performance di tengah masyarakat. Khususnya pada sektor kelompok kaum muda. Seluruh ide dan gagasan, sudah direalisasikan serta terus diaplikasikan para pejuang GMPI. Di ataranya melakukan pengorbanan sesuai ukuran dan kemampuan masing-masing kader. Sebagai gambaran, bukti perjuangan para keder GMPI dapat dilihat dari apa yang sudah dilakukan PW GMPI Sumatera Utara masa bakti 2005-2010 termasuk pengurus masa bakti sebelumnya. Di antara program yang telah dilakukan PW GMPI Sumatera Utara yakni : Pertama melaksanakan program keummatan berbasis dan bersegmentasi kepemudaan dan remaja islam. Realisasi program itu ialah pendidikan dan pelatihan kepemimpinan pemuda Islam, safari ramadhan, pesantren kilat dan lain sebagainya. Kedua, program kemandirian pemuda. Program ini direalisasikan dengan melakukan Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, pembinaan wirausahaan muda islam, pelaksanaan life skill, pembentukan kelompok usaha kecil bidang sabut kelapa dan banyak lagi. Ketiga, melakukan kontrol sosial terhadap pemerintahan provinsi Sumatera Utara dengan berbagai aksi unjukrasa damai. Membantu pemeritahan dengan ikut mensosialisikan program pemerintah dibidang keummatan serta organisasi wadah kemudaan dengan memberi warna melalui peran-peran strategis yang telah dilaksanakan. Keempat mendorong peningkatan kualitas pendidikan generasi muda islam dari upaya-upaya kelompok tertentu yang menyusupinya dengan ajaran dan nilai-nilai yang menyalahi ajaran agama Islam. Melakukan pengutan moralitas dengan memberikan pembinaan akhlakul karima kepada pemuda islam. Kelima, turut aktif dalam setiap kegiatan kepedulian sosial, seperti melakukan pengumpulan dana bantuan untuk korban bencana yang terjadi di Indonesia. Keenam melakukan penguatan basis dan instumen struktural organiasasi organisasi dengan upaya pembinaan pimpinan cabang, Pimpinan Anak Cabang dan Ranting dengan melakukan kaderisasi internal. sekelumit kerja-kerja itulah yang telah dilakukan para pendekar GMPI Sumut dalam lima tahuan masa kepengurusan. Dapat dipastikan, kesemua kegiatan dan program tersebut pemberhentian terakhirnya demi dan semata-mata untuk membantu dan membesarkan PPP. Harapannya, PPP sebagai satu-satunya partai politik yang tetap berkomitmen menggunakan azas Islam, tetap menjadi salah satu kekuatan politik di tanah air Indonesia. Kemudian seluruh yang telah dilakukan kader-kader GMPI, pondasi dan motor penggeraknya tidak lain karena adanya harapan besar bahwa pada waktunya, kader-kader GMPI akan diberi tempat dan ruang oleh PPP. Mendapat apresiasi positif berupa dukungan dan terbukanya peluang dari fungsionaris dan elit PPP dengan memberi kesempatan pada kader GMPI untuk terlibat aktif sebagai bagian dari PPP seutuhnya. Dan yang paling penting PPP memberi dorongan bagi kader GMPI dalam meniti karir politiknya. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa tidak ada kontrak politik, bahwa jika kader-kader GMPI telah bersumbangsih membesarkan PPP, lalu kemudian kader GMPI dan sayap partai lainnya akan diberi peluang dan kesempatan untuk berkiprah di pentaspolitik sebagai bentuk apresiasi atas kinerja selama menjadi pengurus GMPI. Karena sesungguhnya kader GMPI berkewajiban membantu dan mendorong serta mengamankan PPP agar tetap eksis dan mendapat tempat di hati umat. Ke depan, PPP diharapkan menerapkan punishment and reward (sanksi dan penghargaan).Bagi kader-kader sayap partai yang dengan sunggguh-sungguh telah menunjukkan kinerja dengan berjuang membela dan membesarkan PPP sesuai kapasitasnya, harus diberikan apresiasi dan penghargaan. Disisi lain, bagi kader sayap partai yang bekerja untuk merongrong atau menjatuhkan marabat PPP, wajib hukumnya diberikan sanksi tegas. Dengan pola seperti ini, maka diyakini seluruh kader sayap partai akan lebih mati-matian memperjuangkan PPP agar tetap dicintai dan mendapat tempat di hati umat islam. Sebab, ada harapan dan mimpi besar akan beri ruang dan waktu serta peluang oleh PPP untuk meniti karir politik. *** Fakta dan Realita Sebagai seorang organisatoris sejati, apapun konsekwensi yang terjadi harus siap menerima dengan lapang dada. Apa yang dikatakan para ulama dan orang-orang bijak bahwa dalam hidup ini kita harus banyak berlajar ikhlas, patut diamalkan. Dengan ikhlas, apapun yang terjadi saat menjalani lika liku kehidupan, pasti dapat disikapi dengan bijaksana dan elegan. Seperti yang pernah dismpaikan para senior, ketika pertama kali terjun ke dunia organisasi waktu masih mahasiswa. Waktu itu, mereka katakan “organisasi adalah jalan, bukan tujuan”. Sekarang ini kata-kata itu dapat dipahami, sesungguhnya yang paling penting untuk tetap dijaga dan dan terus dipupuk adalah harapan dan tujuan hidup. Persoalan darimana dan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut, itu merupakan bagian dari satu sisi dinamika kehidupan yang harus dijalankan dengan tetap mengambil peran sesuai kemampuan dan keahlian yang dimilik. Dari pemikiran itu, maka seluruh kader GMPI harus terus belajar untuk ikhlas. Meskipun secara tegas GMPI dilahirkan PPP sebagai motor penggerak yang secara khusus bekerja pada segmentasi pemuda, guna mendorong dan membantu PPP berjaya dipentas politik. Kalaupun tidak ada jaminan dikemudian hari PPP tidak akan memberi ruang dan peluang bagi kader GMPI. Fakta lain, berdasarkan regulasi (AD/ART) yang ada di partai berazaskan islam berlambang ka’bah ini, sayap partai (GMPI,GPK, AMK dan WPP) tidak memiliki hak suara dalam setiap pengambilan keputusan dilingkup PPP. Posisi ini langsung atau tidak langsung mempengaruhi semangat dan gairah kerja para kader sayap partai. Ibaratnya, GMPI seperti sebuah batang kayu yang dicampakkan ke dalam hutan rimba. Jika tumbuh sumbur dan berdaun rimbun serta berbuah ranum, maka akan dimanfaatkan. Tapi bila kemudian layu dan mati, mungkin saja PPP tidak peduli, tak bersedih apalagi menangis. Inilah fakta dan realita bagi seluruh kader GMPI termasuk sayap partai PPP yang lain. Menyikapi hal ini, maka perlu urung rembuk serta duduk bersama seluruh kader GMPI untuk menentukan nabisnya ke depan. Musyawarah Wilayah III GMPI Sumut yang akan digelar dalam bulan Januari ini, merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengkaji, mendiskusikan fakta dan realita tersebut. Seluruh Kader-kader GMPI Sumut yang akan mengikuti pesta demokrasi dalam suksesi kepemimpinan ditingkat wilayah sudah harus memiliki ide, gagasan dan konsep mutakhir untuk kemudian menjadi bahan kajian dalam Musyawarah Wilayah nanti. Ini penting agar antara harapan, fakta dan realita bisa seiring sejalan menuju kemenangan. PPP harus mengakui, kecil atau besar, sayap partai termasuk GMPI telah memberikan peran dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Ke depan GMPI juga akan tetap berketetapan hati dalam barisan PPP, dan GMPI mustahil rasa keluar dari barisan PPP apalagi membuka front secara terbuka dalam kaitan politik. Selain itu, ke depan siapapun yang menakhodai GMPI Sumut, sudah harus duduk pada figur tersebut, seperti apa posisi dan kondisi yang harus dialami. Sebagai makhluk Allah yang lemah, berharap dan bermimpi adalah sifat manusiawi. Tapi kalau berharap diluar ekspektasi dan jangkauan, itu hanya melahirkan penyesalan yang tak berujung dan akan berdampak buruk. Untuk itu harus ada upaya konkrit dan bersama-sama dengan antara GMPI dan seluruh sayap partai, guna mendorong lahirnya perubahan dan reformasi secara paripurna seperti yang diharapkan. Sehingga ke depan, sayap partai tidak hanya dianggap sebatang kayu, yang hanya dibutuhkan dan dicari-cari ketika PPP melintasi jalan licin nan terjal. GMPI harus ditempatkan di posisi yang sesungguhnya, sehinga tercipta sinergitas yang kuat antara GMPI dan PPP. Semoga...!!! (Penulis adalah Wakil Sekretaris PW GMPI Sumut periode 2005-2010)

Ketua DPW PPP Sumut : Perintahkan PPP Medan dan DS Amankan Masjid Nurul Hidayah

Masjid Nurul Hidayah yang terletak di Jln Pasar V Barat Gang Tanjung Medan Estate, keberadaannya kini diujung tanduk. Pasalnya pihak pengembang MMTC berniat meruntuhkan masjid tersebut. Karena itu, Ketua DPW PPP Sumut H Fadly Nurzal, S.Ag memerintahkan DPC PPP Kota Medan dan Deli Serdang (DS) mengamankan masjid tersebut. Disebutkan Fadly, masjid sebagai tempat beribadah umat islam tidak boleh diganggu siapapun. “Siapa yang mengusik kegiatan dan kenyaman beribadah di masjid, maka akan berlawanan dengan PPP,”tegas Fadly kepada wartawan menjawab pertanyaan wartawan terkait kunjungan ketua terpilih DPC PPP Kota Medan Aja Syahri S.Ag dan Ketua DPC PPP Deli Serdang Waluyo, Senin (10/1) ke Masjid Nurul Hidayah. Dijelaskan Fadly, dimintanya DPC PPP Kota Medan dan DS mengamankan masjid tersebut, karena secara wilayah lokasi masjid itu masuk Kabupaten Deli Serdang. Sementara umat yang melakukan kegiatan dan ibadah di masjid itu adalah masyarakat Kota Medan. “Saya meminta PPP Kota Medan dan Deli Serdang mengamankannya berdasarkan pertimbangan itu. Artinya kedua DPC ini memiliki kewajiban membela kepentingan umat dan rumah ibadah tersebut,”ujarnya. Sementara itu, Aja Syahri dan Waluyo mengatakan, akan terus berjuang dan berupaya menyelamatkan masjid tersebut. Hal itu dilakukan sebagai bentuk jawab PPP sebagai partai Islam dalam membela kepentingan umat Islam. Masjid ini rumah ibadah, jangan diusik. Bila itu terjadi sama artinya mengusik hati dan perasaan umat Islam. “PPP berada digarda terdepan melakukan perlawan terhadap siapapun yang berupaya menghancurkan masjid tersebut,”tegas Aja dan Waluyo. Lebih lanjut Aja mengharapkan seluruh umat islam bersatu dan bersama-sama menyelamatkan masjid Nurul Hidayah. Ini merupakan ujian dan cobaan dari orang-orang yang ingin menghancurkan umat islam secara perlahan. “Untuk itu, jika ada pihak-pihak yang berusaha menghancurkan masjid ini, sama artinya pihak tersebut membuka pelawanan kepada PPP dan umat Islam,”ucapnya. Dikatakan Aja, masjid merupakan harga diri islam yang harus tetap dipertahankan dan diperjuangkan dan masjid adalah rumah Allah. Karena itu, PPP dan umat islam mempunyai alasan kuat untuk mempertahakan keberadaan masjid tersebut. Apalagi menurut informasi, pihak pengembang tidak memiliki surat resmi yang diakui secara peraturan perundangan-undangan untuk menghancurkan masjid tersebut. Ditambahkan Waluyo, PPP Deli Serdang akan mencoba mempertanyakan kasus masjid tersebut ke Pemkab Deli Serdang. Termasuk mendorong Pemkab Deli Serdang untuk membuat kebijakan penyelamatan masjid tersebut. “Kita mempertanyakan kasus ini kepada Pemkad Deli Serdang dan mendorong agar diambil langkah-langkah untuk menyelesaikannya,”kata Waluyo. Dibagian lain, Aswandi Lubis, satu dari 11 mahasiswa yang tinggal mengurus masjid itu mengungkapkan bahwa upaya pembongkaran masjid terlah berulang kali dilakukan pihak MMTC, dengan menggunakan berbagai cara. Awalnya di tahun 2007 silam, waktu itu mereka disuruh meninggalkan masjid tersebut karena akan dirubuhkan. Sempat terjadi ketegangan antara mahasiswa dan beberapa eleman umat islam dengan pihak yang ingin merobohkan masjid. “Masjid ini sudah berdiri sejak 30 tahun lalu. Waktu itu Badan Kenaziran Masjid (BKM) Nurul Hidayah yang alam diduga kuat telah bersepakat menjual masjid tersebut pada MMTC dengan menerima imbalan Rp50 juta dan Rp400 juta. Itulah awal dari upaya meratakan masjid dengan tanah,”ungkap Andi. Upaya yang sama lanjut Andi, juga terjadi pada awal tahuan 2010 silam dan awal tahun 2011. Pihak MMTC terus melakukan berbagai cara agar masjid dapat dihancurkan, baik dengan cara menteror mashasiswa yang tinggal di masjid maupun melalui jalur birokrasi. “Buktinya, MMTC melakukan pemagaran dengan seng dan besi sehingga menutupi keberadaan masjid tersebut. Andi juga menyebutkan, para mahasiswa dan umat Islam, akan terus mempertahankan keberadaan masjid tersebut. Di sekitar ini, tidak ada masjid karena itu setiap pelaksanaan shalat lima waktu jamaah tetap ramai terutama saat pelaksanaan shalat jum’at. Andi juga mengatakan siap bekerjasama dengan seluruh elemen umat islam termasuk PPP dalam rangka menyelamatkan masjid tersebut dari pihak-pihak yang ingin menghancurkannya. (***)

Rabu, 05 Januari 2011

REPLEKSI HARLAH PPP KE-38 "KEMENANGAN UMAT KEMENANGAN PPP"

Hari ini, tepat 38 tahun lalu, para ulama, tokoh umat islam dan tokoh partai politik islam melahirkan Partai Persatuan Pembangnan (PPP). 38 tahun silam, banyak tokoh penting menyatukan komitmen untuk membangunan kekuatan umat islam melalui politik. 38 tahun lalu, para pendiri partai tidak pernah terpikir dengan melahirkan PPP, akan memberikan dampak luas dan positif bagi insan yang berkiprah di dalamnnya. 38 tahun lalu, mereka yang berjuang keras melahirkan dan membesarkan PPP tak pernah berharap mendapat imbalan, upah, honor, pujian dan berbagai bentuk kenikmatan duniawi. Karena itu pula, PPP diperjuangkan agar tetap survive di bumi nusantara ini dengan keihklasan. Menjadi wakil presiden, menteri, gubernur, walikota/wakil walikota dan bupati/wakil bupati dan sederet jabatan politis lainnya, sama sekali tidak mereka harapkan dan impikan.Mereka juga tak pernah berminpi para kader PPP akan menikmati fasilitas kehidupan yang diberikan negara. Waktu itu, para ulama dan tokoh penting bangsa ini melahirkan PPP dengan niat dan asa, PPP menjadi alat perjuangan umat islam dan masyarakat secara umum. Oleh karena itu pula, pemilihan azas dan lambang partai tidak mereka dapatkan dari hasil diskusi, semedi atau teka-teki silang, bahkan tidak juga dari sebuah mimpi. Azas dan lambang PPP diperoleh dari hasil munajat kepada Allah melalui shalat istikhoroh. Niat tulus dan harapan mulia itulah yang kemudian menjadi motor penggerak, hingga kini PPP tetap hidup di hati umat Islam, meskipun harus diakui terjadi degradasi khiroh perjuangan dan komitmen keikhlasan para kader PPP. Hal itu dibuktikan, dalam catatan perjalanan sejarah, PPP lambat laun 'ditinggalkan' umat Islam. Berdasarkan kajian dan analisa sederhana serta awam ini, menurunnya trend kecintaan umat Islam kepada PPP, paling tidak disebabkan beberapa faktor dan indikator. di antaranya : (1) Melemahnya rasa kecintaan dan semangat berjuang yang dimiliki kader PPP, (2) kebijakan politik PPP yang terkesan tidak maksimal memperjuangkan kepentingan umat, (3) Sikap pragmatisme dan materialistik yang mulai tumbuh dan membudaya. (4) Habisnya kader-kader militan akibat tergerus perkembangan jaman dan budaya hidup masyarakat. (5) Bergesernya pola program yang dibangun dengan meninggalkan basis masjid, kelompok pengajian dan ajaran dan budaya islam lainnya. Meski faktor dan indikator ini, tidak 100 pesen benar, tetapi paling tidak, kondisi ini harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan umat, terkhusus elit politik dan fungsionaris PPP di seluruh tingkatan. Karena di akui atau tidak, jika situasi PPP tidak berubah dari kondisi yang ada saat ini, maka bukan tidak mungkin PPP benar-benar ditinggalkan umat Islam dan pada akhirnya kiprahnya di pentas politik akan sirna. Dan bila itu, terjadi maka yang rugi dan menanggung akibatnya, tidak saja orang-orang yang berkiprah di PPP, tapi juga seluruh umat Islam. Patut untuk direnungkan, jika PPP benar-benar tinggal kenangan. Seperti apa dan siapa lagi yang memperjuangkan kepentingan, aspirasi atau penyambung lidah umat umat Islam kepada para pemimpin bangsa ini. Saat ini saja, ketika kekuatan politik partai islam tidak lagi kuat, di sadari atau tidak, posisi umat islam secara perlahan terpinggirkan. Fakta inilah yang harus menjadi cemeti bagi seluruh umat islam, fungsionari dan kader PPP untuk bangkit kembali membesarkan PPP. Umat masih membutuhkan kerja-kerja dan kebijakan politik PPP. Umat tentu rindu pada semangat juang PPP membantu dan mempertahankan kepentingan Islam. Umat juga pastinya tidak rela PPP hilang dari kancah politik nasional. Menyahuti harapan yang begitu besar tersebut, maka PPP harus berani mengambil langkah dan sikap tegas terhadap seluruh kebijakan penguasa yang jelas-jelas merugikan umat islam. PPP harus kembali bergandengan tangan dengan seluruh umat islam, berjuang bersama dan menikmati hasil bersama-sama pula. Menderita bersama dan berbahagia secara berjama'ah. PPP harus menjadi garda terdepan mengawal kepentingan dan aspirasi umat islam. Selain itu, PPP juga harus melakukan reformasi program, reformasi sistem kaderisasi dan reformasi pola rekruitmen pengurus. PPP harus setajam pedang terhadap seluruh kemungkaran, dan selembut kapas dalam mengayomi seluruh stakeholder. Perlu diingat PPP, mampu bangkit dan menang jika bersama-sama umat Islam, karena memang kemanangan umat adalah kemenangan PPP. SELAMAT HARLAH PPP KE-38 TAHUN, MUDAH-MUDAHAN PPP TETAP MENJADI PARTAI ISLAM DAN RUMAH POLITIK UMAT ISLAM. MARI BANGKITKAN KEMBALI KHIROH PARA PENDIRI PPP, KEIKHLASAN DAN KOMITMEN YANG TAK MENGHARAP IMBALAN MATERI, PUJIAN DAN SANJUNGAN. "BANGKITLAH PPP KU BERSAMA UMAT ISLAM".