MEDAN

Nasehat...

.“(Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas? Tidak ada yang dapat menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl:79") .“(menang dengan mengalah, itulah filsafat air dalam mengarungi kehidupan") .(Guru yang paling besar adalah pengalaman yang kita lewati dan rasakan sendiri) .(HIDUP INI MUDAH, BERSYUKURLAH AGAR LEBIH DIMUDAHKAN ALLAH SWT)

Bismillahirrahmanirrahim

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas? Tidak ada yang dapat menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl:79)

Rabu, 11 Mei 2016

JALAN KEBAJIKAN BERSIKU

ilustrasi
"Apa yang tidak baik dari kiri, jangan diteruskan ke kanan 
dan apa yang tidak baik dari kanan, usah diteruskan ke kiri"

Di jaman yang serba cepat atas kencangnya arus perkembangan teknologi dan informasi ini, urusan komunikasi dan penyebaran informasi menjadi semudah membali telapak tangan. Jarak, waktu dan biaya tidak lagi menjadi kendala dan penghambat. Komunikasi menjadi amat lebih cepat dan lancar, informasi juga lebih mudah tersebar.

Namun sebagaimana hukum kehidupan, segala sesuatu yang mudah, untuk melakukan kebaikan, akan mudah pula digunakan untuk kejahatan. Apalagi kalau hitungannya gratisan, maka sebuah informasi bisa dengan mudah disebarkan kemana-mana tanpa kendali.

Penggunakan teknologi gadget-nya dengan segudang aplikasi (browsing, chatting, games-facebook, instagram, whatsapp, line, twiter- dll), memberikan ruang kepada penggunanya untuk menyebarkan informasi secara mudah, praktis dan cepat. Dari sisi kehidupan sosial, sarana teknologi informasi menjadikan masyarakat kehilangan kepedulian dan respek terhadap lingkungannya. Satu waktu terkadang membuat kita yang melihatnya terkesan lucu, menyaksikan para pengguna teknologi informasi memainkan gadget-nya.

Mari kita lakukan survey sederhana dengan berjalan-jalan ke tempat-tempat umum yang ramai, café, bioskop, bandara, lokasi nongkrong, hingga ke tempat-tempat kerja, baik di instansi pemerintah maupun swasta. Dalam survey itu, pasti kita akan menemukan, mereka terlihat asyik dan sibuk dengan diri sendiri bersama gadget-nya. Kadang terlihat tersenyum dan tertawa sendiri, kening berkerut dan juga rona wajah sedih. Juga aneh bagi kita, saat mereka chatting, tidak mau saling melihat, padahal jaraknya sangat dekat dan mereka sedang berkomunikasi.

Seperti kisah berikut ini. Sore itu, Rubi, Herma dan Kinung seperti biasa berkumpul di warungnya. Namun agak berbeda dengan biasanya, masing-masing terlihat asyik dengan dirinya sendiri. Semua memegang blackberry masing-masing. Sejak mengenal alat komunikasi ini mereka semua menjadi autis. 

Anehnya, mereka terkadang tertawa bersama, padahal tatapan mata satu sama lain terfokus pada layar blackberry  dan smartphone masing-masing. Namun kalau dilihat lebih dekat, dijamin  orang yang melihat akan tertawa juga. Rupanya mereka bertiga sedang chatting bersama di grup yang sama. Apa tidak aneh? Duduk saling berhadapan, asyik sendiri, kelihatan tidak saling berkomunikasi, tapi sebenarnya sedang berinteraksi satu sama lain, via alat komunikasi modern.

Dalam kondisi seperti itu, topik yang dibicarakan tidak jelas, melompat-lompat tak terstruktur. Kadang bicara soal masa lalu, keluarga, sosial, politik, ekonomi, bisnis, bahkan hal-hal sepele yang tidak penting dibicarakan dan lain sebagainya.

Pada saat mereka terhanyut dengan naluri, pikiran dan persaan masing-masing, tiba-tiba masuk sebuah postingan  yang nadanya kurang baik dan bila jatuh ke tangan yang salah bisa menimbulkan persoalan yang tidak baik pula. Tulisan atau postingan itu secara cerdik dibuat seolah pujian, namun nadanya justru bisa menghasut. Yang membuat, pasti cerdik sekaligus licik, serta mempunyai tujuan tertentu. 

Membaca tulisan itu, Rubi langsung berkomentar, “Langsung dihapus saja. Tulisan seperti ini berbahaya dan bisa memicu persoalan yang tidak baik, dan hati-hati kalau mendapat forward tulisan semacam ini. Stop, hapus dan sampaikan penjelasan serupa kepada kawan yang mengirimnya.”

Mitha (teman mereka di grup) yang mem-posting informasi itu, langsung berkomentar, “ Ya Rub, maka setiap ada sesuatu saya tidak berani menyebarkannya keman-mana, kecuali intern grup kita agar kau sensor dulu, hehehe,” balas Mitha. Tiba-tiba Kinung nimbrung dan comment, Tha masing ingat nasihat, “Jalan Kebajikan Bersiku?”, Masih ingat Tha, Herma ikut bertanya. “Ingat dokn,” jawab Mitha. 

Apa yang tidak baik dari atas, tidak diteruskan ke bawah. Apa yang tidak baik dari bawah, jangan diteruskan ke atas. Apa yang tidak baik dari depan, usah diteruskan ke belakang, apa yang tidak baik dari  belakang, jangan diteruskan ke depan. Apa yang tidak baik dari kiri, jangan diteruskan ke kanan dan apa yang tidak baik dari kanan, usah diteruskan ke kiri,”kata Mitha menjawab pertanyaan kedua temannya tersebut.

Ya, seperti dalam kasus penyebaran tulisan itu, kita  harus mampu menjadi filter, penyaring. Sesuatu yang masuk dari segenap penjuru; atasan, bawahan, keluarga, sahabat, lingkungan dan sebagainya yang kebetulan melewati kita, harus dipikir dan ditimbang dulu baik-baik akurasi dan kebenarannya. Terus perlu dilakukan chek and richek apakah patut untuk kita teruskan ke atasan, bawahan, keluarga, sahabat dan lingkungan kita. Apakah setelah disebarluarkan ada manfaatnya atau tidak. Bagi yang menerima apakah akan menimbulkan persoalan baru, membaut resah dan gelisah,”kata Mitha memberikan penjelasan panjang lebar.

Rubi yang sejak awal ikut dalam diskusi di grup itu, menambahkan penjelasan Mitha tentang nasehat ‘Jalan Kebajikan Bersiku’. Rubi mengatakan, penjelasan Mitha tepat, tapi belum lengkap. “Lewat nasehat itu, kita juga diajarkan untuk menjadi insan mandiri yang punya tanggungjawab, integritas dan tidak cengeng. Menjadi bagian dari solusi, bukan justru menjadi pembuat masalah. Ya, tidak mudah mengadu kalau ada masalah. Kita harus coba mengatasi dengan seluruh kemampuan, kewenangan dan tanggungjawab yang kita punyai. Maksudnya kita bertanggungjawab memecahkan masalah secara sungguh-sungguh. Namun bila masalahnya berat, kita tak sanggup mengatasinya atau berbahaya, atau sudah di luar batas kewenangannya, tentu kita akan melaporkan kepada atasan. Namun bukan gampangan mengadu. Sebab bisa repot jadinya atasan, kalau ada masalah memiliki kelemahan, dan apalagi kalau kita harus menjaga rahasia. Demikian juga yang terkait dengan rekan, sahabat, mitra dan lain sebagainya.

Pendeknya kita harus menjadi orang yang berintegritas. Disatu sisi tidak mempermalukan orang, menjaga kepercayaan dan bertanggungjawa. 
Di sisi yang lain, tidak menyebarluaskan sesuatu yang buruk lebih luas lagi. Di samping akan jelek dampaknya, juga akan membuat masalah baru yang mungkin lebih besar” tulis Rubi.

Penjelasan dan komentar yang diberikan kawan-kawan Mitha, adalah salah satu yang sangat penting dalam ilmu komunikasi yakni konfirmasi. Ya, demikianlah, fungsi konfirmasi dalam ilmu komunikasi adalah untuk memastikan kebenaran dan akurasi seluruhnya informasi yang diterima. 

Perlu diingat, ketika pesan sudah disampaikan, maka pesan itu bukan milik kita lagi, tapi sudah menjadi milik audiens atau khalayak. Dan satu pesan bisa memunculkan ribuan penafsiran dan perspektif.

Karena itu, Allah Swt dalam al Qur’an telah memperingatkan kita, bahwa ketika mendapat khabar (informasi/berita) dari orang-orang munafik, kita diminta melakukan 'fatabayyanu' atau crooschek. 'fatabayyanu'  dilakukan untuk memastikan kebenaran serta manfaat dan guna menghindarkan munculnya fitnah. 




  

PANCASILA MODAL UTAMA MEMBANGUN BANGSA

Anggota DPR/MPR RI H. Fadly Nurzal, S.Ag mengatakan pancasila sebagai dasar Negara merupakan modal utama dalam membangun bangsa dan Negara ini. Dalam Pancasila, seluruh perilaku dan sikap seerta komitmen melaksanakan pembangunan secara jelas telah terdapat dalam nilai-nilai Pancasila.
“Jika seluruh bangsa ini mengunakan nilai-nilai pancasila dalam melaksanakan pembangunan, maka saya yakin bangsa ini sudah sejak dulu maju dan berkembang sebagaimana Negara-negara yang sudah maju,”kata Fadly saat melakukan sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, beberapa waktu lalu.  
Acara yang digelar di Madrasah Aliah Negeri (MAN) 1 Kabupaten Langkat itu, dihadiri sekitar seratusan lebih murid MAN 1 Stabat Langkat, Kakan Kemenag Kab Langkat H.T. Bahrumsyah, Kepala Sekolah Sugiono, pengurus BKPRMI Langkat, para guru dan undangan lainnya.
Oleh karena, itu kami sebagai anggota MPR RI memiliki tugas untuk mensosialisasikan empat pilar ini kepada seluruh rakyat Indonesia, dalam rangka memperkokoh pemahaman pancasila yang lebih baik dan konprehensif.
Memang harus kita akui, lanjut Fadly adalah sekenario besar dari kelompok yang tidak menginginkan bangsa Indonesia menjelma sebagai sebuah Negara maju. Sebab, jika itu terjadi, akan mengganggu kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Untuk menghambat laju kemajuan bangsa kita ini, kata Fadly, rakyat Indonesia harus dijauh dari Pancasila sebaga dasar Negara, dan yang menjadi target utamanya adalah generasi muda.
Sekenario tersebut, dikemas dalam bentuk gangguan-gangguan, mulai dari gangguan budaya, gangguan idiologi, gangguan ekonomi, social politik dan lain sebagainya. “Narkoba salah satu gangguan yang dilancarkan kepada bangsa Indonesia dengan target utama generasi muda. Maka banyak kita termukan kasus narkoba yang sudah melanda seluruh kelompok umur dan kelompok status social,”ucapnya.
Jadi, kata Fadly, dengan banyaknya gangguan yang dilancarkan kepada bangsa ini, secara tidak langsung itu menghambat laju pembangunan. Sebab, bangsa ini selalu dissibukkan dengan sejumlah persoalan-persoalan yang ada. Artinya focus bangsa ini bukan melaksanakan pembangunan diseluruh lini dan sector kehidupan berbangsa dan bernegara, tapi justru sibuk untuk menyelesaikan persoalan yang ada,”sebutnya.
Kepada seluruh generasi muda di MAN 1 Stabat ini, dalam rangka membantu dan ikut mendorong percepatan pembangunan bangsa ini, saya ingin berpesan lima hal. Pertama, tugas kita saat ini adalah belajar dengan baik agar menjadi generasi berkualitas, maka berlajar dengan sungguh-sungguh. Kedua, hormati kedua orangtua, karena kesuksesan kita sangat tergantung dengan ridho dan do’a dari kedua orangtua kita. Ketiga hormati guru, karena mereka kita mendapat ilmu pengetahuan. Keempat hargai teman, agar teman bisa menjadi motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas belajar. Kelima bekerja keras, karena tanpa bekerja keras susuh kita menggapai seluruh apa yang kita cita-citakan.
“Bagi kita yang beragama Islam, tentu kita harus tetap berdo’a kepada Allah, setelah melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Konkritnya bagi kita generasi muda Islam, jangan pernah tinggalkan shalat. Karena dengan shalat kita akan menjadi generasi yang kuat tapi tetap gaul,”sebutnya.
Sebelumnya, Kakan Kemenag Kab.Langkat dalam sambutannya menyampaikan harapan kepada siswa-siswi agar mampu mengambil pelajaran dari H. Fadly Nurzal, S.Ag yang saat ini juga sebagai Anggota Komisi IV DPR RI dan Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PPP.
“Saya berharap para siswa bisa manfaatkan kehadiran Pak Fadly Nurzal, untuk menambah ilmu dan wawasan kebangsaan,”ucapnya.
Dibagian lain, Kepala Sekolah MAN 1 Stabat menyampaikan ucapan terimakasih dan rasa bangga atas kehadiran Anggota DPR/MPR RI H. Fadly Nurzal, S.Ag ke MAN 1 Stabat. “Kehadiran beliau merupakan satu kebanggaan kepada kita bersama dan atas kehadirannya kami ucapkan terima kasih,”ucapnya.
Acara ditutup dengan penyerahan cendaramata dari H. Fadly Nurzal kepada Kepala Sekolah MAN Binjai dan sesi foto bersama

Fadly Nurzal : Generasi Muda Jangan Pernah Lupakan Sejarah

JANGAN LUPA SEJARAH - Anggota DPR/MPR RI H. Fadly Nurzal, S.Ag
berpesan kepada siswa MAN Kota Binjai agar jangan pernah melupakan
sejarah. Pesan itu disampai kannya saat acara sosialisasi
empat pilar kebangsaan.
Anggota DPR/MPR RI H. Fadly Nurzal, S.Ag berpesan kepada seluruh generasi muda bangsa agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab, bila itu terjadi maka bangsa ini akan kehilangan jati diri dan harga diri.
“Bangsa yang melupakan sejarah, maka ia telah kehilangan jati diri dan harga diri sebagai sebuah bangsa dan Negara,”kata Fadly saat melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) tentang empat consensus atau empat pilar berbangsa dan bernegara, beberapa waktu lalu.  
Acara yang digelar di Madrasah Aliah Negeri (MAN) Binjai itu, dihadiri sekitar seratusan lebih murid MAN Binjai, Kakan Kemenag Kota Binjai Al Ahyu, Kepala Sekolah, para guru dan undangan lainnya.
Dijelaskan Fadly, ketika kita sebagai bangsa melupakan sejarah kita sendiri, sama artinya kita telah lupa pada cita-cita besar dilahirkannya bangsa ini. Cita-cita tersebut secara jelas termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Selain itu, tentunya kita juga tidak boleh lupa sejarah para pendiri dan pahlawan bangsa ini yang telah mengorbankan seluruh jiwa raga, demi mewujudkan Indonesia merdeka. “Para pendiri dan pahlawan bangsa dengan seluruh potensi yang ada, telah bekerja keras demi satu tujuan Indonesia yang makmur, adil dan sejahtera,”ucap Fadly.
Tentu, lanjut Fadly sebagai generasi muda bangsa sejarah itu harus kita ingat dan fahami secara utuh, dan kemudian menjadi motivasi untuk menjaga, melanjut serta serta mengisi kemerdekaan.
Lalu bagaimana cara kita sebagai generasi muda untuk mempertahankan bangsa ini tetap berdiri kokoh, serta mampu melahirkan kemajuan. Di antaranya, bagi para  siswa tentu harus belajar dengan sungguh-sungguh, berbakti kepada orangtua dan guru, bekerja keras serta tidak lupa berdoa.
Karena itu pula, sebagai generasi muda, jangan pernah takut untuk berbuat, apalagi takut salah dan gagal. Sebab dalam catatan sejarah, tidak ada orang yang menui sukses besar tanpa kerja keras, tanpa kesungguhan dan tanpa do’a. Dan yang paling penting, tidak ada seorangpun yang meraih sukses besar, tanpa kegagalan dan kesalahan.
“Dari kesalahan kita akan mengetahui kebenaran yang sebenarnya dan dari kegagalan kita akan bangkit kembali untuk melakukan yang lebih baik lagi. Artinya salah dan gagal itu bukan pertanda kita sudah kiamat, tapi awal dari kesuksesan yang akan kita raih,”ujarnya.
Untuk itulah, saya berpesan kepada para siswa/I MAN Binjai, agar jangan pernah berhenti belajar dan bekerja keras. “Dua atau tigapuluh tahun ke depan, kita akan mendengarkan, siswa-siswi MAN Binjai ada yang menjadi presiden, gubernur, walikota, pengusaha, politisi dan lain sebagainya. Dan ketika hari tiba, maka kita akan merasakan manfaat belajar sungguh-sungguh yang kita lakukan sekarang,”katanya.
Sebelumnya, Kakan Kemenag Binjai Al Ahyu dalam sambutannya menyampaikan harapan kepada siswa-siswi MAN Binjai agar mampu mengambil pelajaran dari kehadiran H. Fadly Nurzal, S.Ag yang juga saat ini sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PPP.
“Saya meminta para siswa manfaatkan kehadiran Pak Fadly Nurzal, untuk menambah ilmu dan wawasan kebangsaan,”ucapnya.
Dibagian lain, Kepala Sekolah MAN Binjai menyampaikan ucapan terimakasih dan rasa bangga atas kehadiran Anggota DPR/MPR RI H. Fadly Nurzal, S.Ag ke MAN Binjai. “Kehadiran beliau merupakan satu kebanggaan kepada kita bersama dan atas kehadirannya kami ucapkan terima kasih,”ucapnya.
Acara ditutup dengan penyerahan cendaramata dari H. Fadly Nurzal kepada Kepala Sekolah MAN Binjai dan sesi foto bersama.

Rabu, 02 Maret 2016

Selasa, 01 Maret 2016

SUDAHKAN HIDUP ANDA MENCAPAI BEP?

"Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama (dengan kemarin) maka dia telah lalai (merugi), barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat (binasa)."
Nasehat ini, memberikan gambaran kepada kita semua bahwa dalam hidup ini kita diminta selalu melakukan perhitungan antara keuntungan dan kerugian.  Jika kita mau beruntung, hidup dan kehidupan kita hari ini –di berbagai aspek- harus lebih baik dari hari sebelumnya. Makna lainnya yang dapat diambil dari nasehat tersebut adalah bahwa apapun yang kita lakukan dalam hidup ini harus mempertimbangkan sisi untung dari rugi, baik kesalehan pribadi maupun kesalehan sosial (hablum minallah dan hablum minannasi).
Dalam istilah ekonomi dan dunia bisnis, ada yang disebut dengan BEP (Break Event Point). Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan/profit.
Jika dianalogikan BEP hidup adalah bagaimana kita menghitung antara jumlah kebaikan dan keburukan yang kita lakukan setiap hari. Artinya kita harus menghitung berapa banyak jumlah ibadah dan kebaikan (barang dan jasa) yang harus kita lakukan kepada Allah dan manusia, lalu dipotong dengan dosa dan keburukan (biaya-biaya yang timbul) yang kita lakukan, barulah kita mencapai BEP hidup.
Lalu, untuk apa kita harus mencapai BEP Hidup? Jawabnya tentu agar kita mengetahui apakah nikmat dan rezeki yang berlimpah diberikan Allah Swt, sudah sesuai dengan peruntukannya. Contohnya Allah menciptakan kita adalah untuk menyembah-Nya. Allah menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di dunia. Allah menciptakan manusia untuk melakukan kebajikan yang bermanfaat untuk manusia lain dan sebagainya, dan ini dari sisi hubungan manusia kepada Allah.
Lalu dari sisi hubungan manusia dengan manusia (sosial), maka BEP hidup itu penting untuk mengetahui apakah tujuan, cita-cita dan harapan kita sudah on the track atau sudah berada pada rel/jalur yang benar. Meskipun adalah pertanyaan klise tentang ‘Apa arti dari hidup?’ atau ‘Apakah tujuan hidup itu?’ atau ‘Kenapa kita dilahirkan? Dalam kebanyakan kasus, kita memiliki agenda masing-masing tentang apa yang menjadi tujuan-tujuan dalam hidup kita.

Untuk lebih mendekatkan pemahaman kita, dari sudut pandang spiritual misalnya, terdapat dua alasan dasar tentang mengapa kita dilahirkan. Alasan-alasan inilah yang mendefinisikan tujuan hidup kita yang paling mendasar. Tujuan-tujuan ini adalah untuk menyelesaikan akun/ perhitungan-perhitungan memberi dan menerima (give-and-take account) yang kita miliki dengan berbagai orang.
Sebagian besar dari kita memiliki tujuan hidup masing-masing. Tujuan – tujuan hidup ini mungkin menjadi seorang dokter, menjadi kaya, pepoler atau jabatan prestius, ahli dibidang tertentu, status sosial high class dan lain sebagainya. Apapun tujuannya, bagi sebagian besar kita, lebih banyak tujuan tersebut lebih dominan keduniawiannya. Sistem-sistem pendidikan kita yang ada telah tertata untuk membantu kita mengejar tujuan-tujuan duniawi itu. Sebagai orang tua kita juga menanamkan tujuan hidup duniawi yang sama pada anak-anak kita dengan mendorong mereka untuk belajar dan masuk dalam profesi-profesi yang memberikan mereka manfaat keuangan lebih banyak dibandingkan dengan profesi kita sendiri.
***
Ketika kita sudah mencapai BEP Hidup, maka sesungguhnya kita termasuk orang-orang yang beruntung. Sama seperti dalam bisnis, ketika satu perusahaan sudah mencapai BEP, maka hasil yang diperoleh di atas BEP itu adalah keuntungan murni. Keuntungan yang akan menghantarkan owner, karyawan dan perusahaan tersebut kepada kesuksesan besar.

Kita dalam hidup ini juga seperti itu. Bila ibadah dan kebaikan kita sudah lebih banyak jumlah dari pada kesalahan atau dosa yang kita perbuat, maka kita termasuk orang-orang yang beruntung, dalan akan mencapai sukses besar ditempatkan Allah di surga-Nya pada kehidupan akhirat, dan mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia ini.  So, sudah hidup kita mencapai BEP? (Diskusi siang di kantin UIN Sumut, 01 Maret 2016)

Senin, 29 Februari 2016

BUAS DAN LICIK...?


Sore itu Rubi datang ke warungnya. Di dalam warung sudah ada Herma dan Kinung yang sedang asyik  me- nonton televisi. Yang mereka saksikan adalah salu ran khusus  yang  menayangkan  kehidupan  binatang  di- alam bebas. Kelihatan keras dan berdarah, namun tak jarang di dalamnya ada filosofis yang perlu juga dipe- lajari.
Setelah Rubi tiba, tak berapa lama acara nonton televisi pun usai. Kemudian acara dilanjutkan dengan obrolan bebas seperti biasanya. Kali ini topiknya membahas tentang kehidupan dunia binatang.
“Kita sering mengatakan bahwa macan dan singa binatang buas. Kalau yang dimaksud buas karena macan dan singa memangsa hewan hidup lain, apakah itu tepat? Bukankah manusia juga membunuh hewan-hewan dalam jumlah yang jauh lebih banyak? Singa dan macan membunuh hewan-hewan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup agar tidak mati kelaparan, sedangkan manusia membunuh untuk memenuhi nafsunya yang tidak pernah terpuaskan.
Manusia bisa membunuh hewan-hewan karena ingin menikmati dagingnya yang lezat, bisa tergiur oleh khasiat bagian atau organ tubuh tertentu, tertarik keindahan kulit binatang yang berharga mahal, dan bahkan tak jarang membunuh tanpa dasar atau alasan apapun”, tiba-tiba Herma bercerita seolah-olah ia sedang bicara pada dirinya sendiri.
“Benar Ma, macan dan singa membunuh untuk makan, sedangkan manusia bisa dengan sejuta alasan, termasuk tanpa ada alasan apapun. Bahkan caranya bisa sangat kejam. Kalau macan dan singa mengoyak mangsa dengan giginya yang tajam, dan itu disebut kejam, maka apa yang harus kita katakana kala orang-orang mengkoyak-koyak sirif ikan hiu dan kemudian membuang badannya yang sudah tak berdaya, berdarah-darah di tengah laut begitu saja, sampai akhirnya dibiarkan mati dirajam teman-temannya?”,tambah Kinung.
Herma mengangguk dan dengan suara pelan ia berkata, “Macan mengkoyak mangsanya karena hanya cara itulah yang ia kuasai untuk membunuh. Kalau manusia demikian canggih, bisa meniru macan, bisa dengan tembakan, jeratan dan bahkan dengan fitnah yang lebih kejam dan mengerikan”.
“Betul, mengerikan”, sambung Kinung.
“Adalagi yang mengatakan bahwa macan dan singa buas, karena makan daging mentah dan berdarah. Tetapi apakah tepat, jika dikatakan demikian? Bagaimana dengan orang yang suka memakan sashimi atau makan daging mentah? Bahkan aku pernah melihat orang-orang yang memakan anak tikus yang masih merah hidup-hidup. Juga bagaimana dengan orang yang suka memangkas batok kepala kera hidup-hidup dan kemudian dalam keadaan sekarat, otak yang berdarah-darah si kera dimakan mentah-mentah dengan campuran arak? Apakah itu tidak kalah buas dan sangat sadis?”
Herma bergidik ngeri dan jijik mendengar cerita Kinung, meski sejatinya dia sering mendengar cerita itu.
Herma kemudian mencoba menceritakan pengalamannya,”Nung, ular yang sering disebut licik ternyata juga tidak serakah. Kalau sudah kenyang, ia akan tidur pulas dan membiarkan mangsanya bergitu saja. Aku pernah melihat ular sebesar paha, tidur dalam kotak plastik, dan di atasnya ada seekor kelinci yang berlarian dengan bebasnya, menginjak-injak tubuh ular itu. Ia tetap bergeming karena ia kenyang dan hanya akan membunuh kalau butuh makan untuk mempertahankan hidup”, kata Herma kemudian.
“Ia, betul Ma. Hampir semua binatang yang disebut buas dan licik hanya akan membunuh kalau lapar atau terusik. Ular yang sering dikatakan licik sebenarnya masih harus belajar soal kelicikan pada manusia, sebagai sang raja licik yang sesungguhnya. Bahkan selicik-liciknya ular, kalau membunuh dia akan lakukan sendiri. Artinya menjadi jelas siapa yang bertanggungjawab. Sementara manusia, tampak menyentuh dan sering tanpa bisa dibuktikan, pun bisa mencelakai sesama dengan mudah. Lebih gila lagi, dia bisa dengan mudah pula menimpakan semua kesalahan pada orang yang sama sekali tidak berdosa.”, imbuh Kinung.
“Rub, kok kamu diam saja? Kamu kurang enak badan? Masuk angin? Aku buatin wedang jahe ya?”, tiba-tiba Herma bertanya pada Rubi yang sejak tadi sama sekali tidak berkomentar.
“Tidak Ma, terima kasih, aku sehat-sehat saja dari tadi aku menyimak dengan baik pembicaraan mu dengan Kinung kok. Mau dikomentari apalagi? Semua yang kalian berdua katakana memang benar adanya. Cuma kalian berdua kan tahu bahwa manusia pandai berargumentasi dan berdiplomasi, sehingga dengan amat mudah tetap akan mengatakan bahwa macan dan singa adalah binatang paling buas, sedang ular binatang paling licik, mengapa? Karena manusia kan bukan binatang, meski menurut teori Darwin digolongkan dalam kelompok primata, hehehe.”
“Benar juga ya Rub”, komentar Herma.
“Ada satu lagi, yang ingin kutambahkan. Kalau macan singa ular dan kawan-kawannya tidak bisa mengelak tuduhan bila melakukan pembunuhan, manusia tidak sekedar bisa mengelak dan malah memfitnah menimpakan kesalahan pada orang lain, tetapi dia bisa dengan terbuka membangun citra sebagai orang yang baik dan dermawan. Hitamnya di kubur dalam-dalam dan yang tampak akan terlihat, putih cemerlang tanpa noda”, kata Rubi sungguh-sungguh. “ Dan  terkahir, Ma, Nung, janganlah terlalu menjelek-jelekkan manusia, karena bagaimanapun juga kalian berdua, dan tentu termasuk aku sendiri, juga manusia yang sejak tadi kita kritik habis-habisan, hahaha,” pungkas Rubi.
Kinung, Herma dan Rubi tertawa lepas menertawakan kemunafikan diri sendiri, (bertambah bijak setiap hari, Tuhan sudah pindah alamat?)

   

BELAJAR DARI SERIGALA

Ada seorang anak dari teman saya, sebut saja Lie. Sudah setengah tahun ia lulus kuliah, namun ia tidak pergi mencari kerja. Aktivitasnya hanya tidur dari pagi sampai siang. Malam harinya, ia pergi main internet sampai tengah malam. Belakangan ia meminta uang kepada orangtua nya untuk menuntut ilmu lebih da lam lagi ke Amerika. Teman saya tersebut menanyakan kepada Hung Lan tenti mesti atau tidaknya ia membiarkan si anak pergi.
Hung Lan menatap dalam-dalam rambut teman saya yang memutih, lalu berkata, “ Jika kamu berniat agar anak kamu baik nantinya, biarkan ia pergi tapi jangan kasih ia uang.”
Hung Lan terpikir tentang cerita keponakannya yang warga Amerika. Sejak kecil ia selalu berpikir ingin menjadi pengembara. Ia akan berkelana, melihat-lihat dunia luar. Ia hendak pergi berkeliling dunia. Nanti setelah kembali, ia baru melanjutkan pendidikannya di universitas. Biarpun ayahnya seorang dokter, ekonomi keluarga memungkinkan, tetapi ayah dan ibunya tidak memberinya uang, dan ia juga tidak memintanya dari mereka.
Sesudah tamat SMA, anak tersebut segera pergi ke hutan Alaska untuk memotong kayu, yang hasilnya nanti ditabung. Karena di Alaska sedang musim panas, siang harinya sangat panjang. Matahari baru terbenam kira-kira tengah malam. Dan sebentar kemudian, pukul 3.00 pagi, matahari sudah terbit lagi. Jika ia bisa bekerja memotong kayu selama 16 jam per hari dalam satu musim, mmaka ia bisa menggunakan tabungannya untuk keliling dunia selama tiga musim.
Setelah dua tahun keliling dunia, akhirnya anak itu pulang untuk meneruskan pendidikannya di universitas. Dan, karena ia memikirknnya sendiri secara matang dan mendalam, maka jurusan yang dipilihannya yang semestinya perlu ditempuh selama empat tahun untuk lulus, diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Setelah itu ia baru mencari pekerjaan. Kariernya cukup baik, yang bisa dibilang searah dengan angin, lancar, naik erus sampai ke posisi kepala insiyur/manager teknik.
Suatu saat, ia bercerita kepada Hung Lan tentang sesuatu yang mempengaruhinya seumur hidupnya. Ketika ia bekerja paruh waktu di Alaska, pernah sekali ia dan temannya mendengar auman serigala di atas gunung. Mereka sangat cemas dan mulai mencari-cari. Akhirnya mereka menemukan seekor serigala betina yang terjebak dan merintih kesakitan.  Kemudian anak tersebut memperhatikan alat jebakan besi yang unik. Ia mengetahui alat itu milik seorang Pak Tua. Pak Tua tersebut tergolong amatiran. Waktu luangnya digunakan untuk menangkap binatang, kemudian menjual kulitnya sebagai tambahan kebutuhan dapurnya. Tetapi setahu mereka, Pak Tua ini telah diangkut menggunakan helicopter ke rumah sakit Karen serangan jantung. Ia harus mendapatkan pertolongan dan dirawat.
Sementara itu, serigala betina yang terjerat ini akan mati kelaparan kerena tidak diurus. Timbul keinganan si anak melepaskan serigala tersebut. Tetapi serigala sangat ganas dan garang sehingga ia tidak mendekatinya. Ia juga mengamati tetesan susu dari serigala betina ini, yang menandakan bahwa di sarangnya pasti ada anak-anak serigala.
Si anak dan temannya menghabiskan banyak sekali tenaga dan energy untuk mencari sarang serigala. Akhirnya mereka menemukan empat ekor anak serigala dan membawa mereka tempat serigala betina tadi untuk diberikan susu. Sehingga mereka bisa menghindarkan anak-anak serigala tersebut dari bahaya mati kelaparan.
Si anak mengulurkan bekal makannya untuk diberikan kepada serigala betina sebagai makanan dan mempertahankan hidup. Malam hari ia masih harus berkemah di sana, didekat serigala betina untuk menjaganya dan keluarganya dari serangan binatang lain, karena ibu serigala itu terjerat sehingga tidak bisa membela keamanan diri maupun anak-anaknya.
Keadaan tersebut berlangsung sampai hari kelima. Saat hendak member makan serigala betina, tiba-tiba si anak memperhatikan serigala tadi mulai menggoyang-goyangkan ekornya. Ini pertadan bahwa ia sudah mulai mendapatkan kepercayaan dari bintang tersebut. Akhirnya setelah berlalu tiga hari lagi, barulah ia bisa mendekati serigala betina itu. Ia pun membuka jebakan yang menjerat binatang tersebut dan melepaskannya bebas kembali.
Setelah bebas, serigala betina ini kemudian menjilat tangan si anak dan membiarkannya memberikan obat luka di kakinya. Terakhir, serigala tersebut membawa anak-anaknya pergi, dengan sesekali memalingkan kepalanya ke belakang, ke arah si anak Amerika itu.
Keponakan Hun Lang itu terduduk di atas baru. Ia berpikir, jika seorang manusia bisa membuat seekor binatang buas seperti serigala menjilat tangannya dan menjadi temannya, apakah tidak mungkin seorang manusia membuat manusia lain meletakkan senjatanya dan berkawan?
Di kemudian hari, anak tersebut bertekad untuk berbuat baik dan menunjukkan ketulusan hati kepada orang lain. Sebab dari kasus ini, ia mendapatkan pelajaran bahwa jika seseorang mendahulukan ketulusan hati maka pihak lawan pasti membalasnya dengan ketulusan juga. Tentu jika seseorang tidak mampu membalas ketulusan dengan hal serupa, ia dinilai kalas dari binatang buas.
Karenanya, setelah masuk kerja di perusahaan, anak tersebut berbaik hati kepada orang lain. Pertama-tama, ia selalu menganggap orang lain berniat baik, kemudian ia bersikap tulus, seringkali menolong orang lain, serta tidak berhati sempit dan mengingat kesalahan-kesalahan kecil orang lain. Oleh karena itu, setiap tahun ia selalu naik jabatan, promosinya cepat sekali. Yang paling penting adalah ia melewati hidupnya setiap hari dengan sangat gembira. Sebab, orang yang membantu orang lain adalah lebih gembira dibandingkan orang yang menerima bantuan. Biarpun tidak mengetahui peribahasa Tionghoa, yang menyatakan bahwa member lebih memberi lebih berkarunia kebajikan daripada meneriam, tetapi ia telah menjalankan kehidupan yang demikian.
Si anak menyatakan rasa terima kasihnya kepada Hung Lan atas pengalamannya di Alaska dulu. Penggalan itu yang membuatnya menerima rezeki kebajukan yang tak habis seumur hidup. Dan ini benar sekali, stroberi akan terasa manis juka sudah mendapatkan embun. Manusia menjadi dewasa dan matang jika sudah diasah dengan kesulitan.
Jadi, jika ada seorang yang tamat universitas dan tidak tahu mau bekerja, biarkan ia pergi agar diasah oleh kehidupan. Kita tidak perlu memberinya uang, biarkan ia mencari uang dengan tangannya sendiri. Berikan kepadanya kesempatan untuk membuktikan kekuatan dirinya dan mencicipi kehidupan. Niscaya, ia pasti bisa mendapatkan pengalaman yang berguna seumur hidup.
Tuhan telah menciptakan sebuah sisten unik, system yang mengharuskan kita berusaha selama di dunia. Pernahkan terpikirkan, mengapa anda harus bekerja dan mencari uang? Mengapa anda harus bersusah payah mendapatkan keinginan anda? Jika kita telusuri lebih dalam semua pertanyaan itu, kita akan mendapi ebuah jawaban yang menyakinkan kita. Ternyata, Tuhan benar-benar telah mempersiapkan semuanya, sehingga kita bisa menjadi orang yang berguna di dunia.

Mahatma Gandhi berkata, “Hiduplah seolah akan mati besok, belajar seolah akan hidup selamanya”. Kita harus melakukan segala sesuatu dengan kemampuan terbaik, seolah tidak ada kesempatan kedua, hari esok, perpanjangan deadline, atau waktu untuk merevisi. Tuhan menjadikan kematian sebagai misteri terbesar bagi manusia agar mereka menjadikan kehidupan ini bukan sebagai sesuatu yang bisa dijalani seenaknya. Dan yang perlu kita ingat adalah kita harus bertanggungjawab atas segala sesuatu selama hidup di dunia. (Rivaldo Fortier/Belajar Kepada Serigala)

Sabtu, 27 Februari 2016

BAN PESAWAT DAN KEPEMIMPINAN


“Ya, beban seorang pemimpin itu seperti ban atau roda pesawat. Praktis semua beban pada akhirnya seolah-olah ditumpukan kepadanya. Apalagi sedang ada masalah berat, ibarat seperti pesawat mau mendarat. Kalau tidak mampu, seperti ban pesawat, ya pecah meletus. Kalau ia pandai dan mampu, ya, akan mulus-mulus saja. Yang dipimpin juga akan marasa nyaman, senyaman kala kita ketika mendarat dengan mulus karena pilotnya begitu handal,” 
***                                     
Hari itu mereka bertiga; Rubi, Herma dan Kinung hendak pergi keluar kota. Rencananya mau meng ajak keluarga, namun karena anak-anak ujian, terpaksa mereka berbagi tugas dengan istri dan suami masing-masing. Apalagi mereka pergi cukup lama, 3-4 hari, memenuhi undangan salah satu sahabat baik mereka, Mitha yang mau mantu, menikahkan anak pertamanya.
Sambil menunggu naik pesawat, mereka duduk-duduk santai di longue, sambil  berbincang dan menyantap makanan kecil. Dari kaca pembatas, sesekali mereka bisa melihat pesawat yang takeoff maupun landing. Tiba-tiba Herma berkata, “Coba perhatikan, ban pesawat itu begitu kecil, jumlahnya pun cuma enam, dua di depan dan empat dibelakang. Tapi beban pesawat, penumpang dan bagasi yang begitu berat mampu ditahannya. Sungguh hebat ban pesawat itu!
“Itu tidak seberapa Ma, coba perhatikan kalau sedang mendarat, betapa besar beban dan gesekan yang terjadi. Itu bisa berlipat kali, dibanding dalam keadaan statis. Tapi ban itu kuat dan tidak pecah. Padahal ban truk-truk gandeng yang jumlahnya belasan, kerap kali harus diganti, hebat memang ban pesawat itu,” komentar Kinung menimpali.
“Ya kualitas bannya memang beda Nung, mungkin harganya juga berlipat-lipat,” Herma menyatakan pendapatnya.
“Betul. Juga kualitas aspal landasan beda dengan jalan raya kita yang amat banyak lubangnya disana sini. Belum lagi dikala musim hujan,”imbuh Kinung.
“Tapi aku kepikiran ucapanmu tadi, Nung. Ketika pesawat itu mendarat, kan bebannya jadi berlipat. Kok ban itu begitu kuatnya ya? Hebat benar kualitasnya,” kata Herma sambil menerawang ke atas pewasat yang sedang hilir mudik.
“Ya benar. Hebat,” jawab Kinung.
“Ada banyak factor penyebab,” kata Rubi yang selama ini diam saja. Pertama, benar seperti kata Herma, kualitas ban pesawat memang istimewa. Kedua, juga benar yang dikatakan Kinung, kualitas landasan pacu jauh lebih bagus ketimbang jalan raya. Ketiga keahlian dari si pilot itu sendiri ketika mendaratkan pesawatnya. Begitu terlatih, sehingga gesekan yang terjadi paling minimal. Akibatnya berat pesawat tidak serta merta terbebankan langsung ke bawah, namun diimbangi putaran ban yang bundar. Dengan kata lain, berat yang ada tersebar, terbagi oleh putaran roda. Faktor keempat, ya bentuk roda yang bundar itu, sehingga bisa berputar sempurna, membagi beban secara sempurna dan menetralisirnya.”
“Hebat. Betul analisa mu Rub,” kata Kinung.
 “Jadi intinya terbagi dan tersebar?!”, kata Herma setengah bertanya.
“Ya,” Jawab Rubi sambil sedikit menganggukkan kepalanya pelan-pelan.
“Terus..?”, kata Herma memancing Rubi seperti biasanya.
“Apa maknanya?”
“Maknanya, hahaha…, kamu ini senangnya mengkait-kaitkan”, jawab Rubi.
“Ayo ceritakan donk, apa yang tiba-tiba ada di kepalamu Rub. Aku kan hafal benar dengan kehebatan mu itu.”kata Herma setengah merajuk manja.
“Ayo Rub, mumpung masih ada waktu nih, kamu tak mungkin menghindar dari tebakan Herma,” desak Kinung.
“Terlintas di benakku kaitan antara ban pesawat dan kepemimpinan,” kata Rubi sungguh-sungguh.
“Wah-wah-wah, sampai sejauh itu Rub?,” kata Kinung.
“Ya, beban seorang pemimpin itu seperti ban atau roda pesawat. Praktis semua beban pada akhirnya seolah-olah ditumpukan kepadanya. Apalagi sedang ada masalah berat, ibarat seperti pesawat mau mendarat. Kalau tidak mampu seperti ban pesawat, ya pecah meletus. Kalau ia pandai dan mampu, ya, akan mulus-mulus saja. Yang dipimpin juga akan marasa nyaman, senyaman kala kita mendarat dengan mulus karena pilotnya begitu handal,” papar Rubi lancar seperti biasanya.
“Cek-cek-cek, Rubi, Rubi, itulah sebabnya aku begitu kagum, cinta, hormat, saying dan sebagainya dan sebagainya kepada mu. Jauh melewati rasa cinta seorang wanita kepada laki-laki,”puji Herma dengan mata berbinar-binar. “Hahaha, Rub, seandainya kamu dulu menyatakan cinta padanya, aku yakin akan diterima dengan tangan terbuka”, canda Kinung sambil tertawa. “Bahkan jika dilakkan sekarang pun, tetap akan diterima dengan suka cita,”sambung Kinung dengan tertawa nakal. “
Husssh, mungkin bisa begitu, tapi jangan terjadi ya Rub. Persahabatan kita jauh melebihi itu semua,”Herma berkata sungguh-sungguh.
Dengan tersenyum Rubi meneruskan penjelasannya, “Pemimpin yang baik bisa belajar dari ban pesawat itu. Ia harus bisa menahan beban dan membaginya, beban atau tanggungjawab seberat apapun akan terasa ringan bila dibagi. Dibagi dengan memberi delegasi wewenang dan tanggungjawab yang jelas, seperti pencapaian kinerja yang baik. Ibaratnya seperti beban pesawat yang terbagi oleh putaran ban yang sempurna dan laju pesawat itu sendiri. Bagaimana membaginya agar adil dan merata? Ya, seperti ban yang bulat sempurna. Adil! Namun kenapa bisa sempurna, karena roda atau bannya berputar. 
Nah putaran itu ibarat kerja, meski bundar kalau statis atau tidak berkinerja, ya berat dan tetap bisa meletus. Terus, seperti kata Kinung jalannya harus baik. Ibaratnya konstitusi kalau bicara Negara atau AD/ART kalau bicara organisasi, harus baik pula. Dan seperti Herma, kualitas ban alias kualitas sang pemimpin itu sendiri, amat sangat menentukan,” pungkas Rubi menutup uraiannya. (bertambah bijak setiap hari, Tuhan sudah pindah alamat?)

Jumat, 26 Februari 2016

Mursal Harahap, S.Ag, M. Kom. I: JAGA KEKOMPAKAN 'PERTANDINGAN BELUM SELESAI'

Mursal Harahap, S.Ag, M. Kom. I: JAGA KEKOMPAKAN 'PERTANDINGAN BELUM SELESAI': Sosialisasi dan konsolidasi sekaligus silaturrahim  Ketua  DPW PPP Sumatera Utara H Fadly Nurzal, S.Ag  bersama  tokoh , pengurus da...

Senin, 22 Februari 2016

JAGA KEKOMPAKAN 'PERTANDINGAN BELUM SELESAI'

Sosialisasi dan konsolidasi sekaligus silaturrahim Ketua 
DPW PPP Sumatera Utara H Fadly Nurzal, S.Ag bersama 
tokoh , pengurus dan kader PPP di Kota Tanjung Balai.
Menghadapi Konflik Partai saat ini yang sangat dibutuhkan adalah kekompakan seluruh kader, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Dengan kekompakan dan persatuan tersebut, kita mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi dengan damai. Apalagi saat ini seluruh senior dan pendiri partai sedang bekerja keras untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. 
"Tetaplah jaga kekompakan, karena pertandingan belum selesai,"katanya. 
Berdasarkan putusan Menteri Hukum dan HAM, bahwa kepengurusan DPP PPP yang sah adalah kepengurusan yang dihasilkan Muktamar VII Bandung. Sebab, SK DPP PPP dibawah kepemimpinan Romahurmuzy (Muktamar Surabaya), SK-nya telah dicabut, sementara SK Kepengurusan hasil Muktamar Jakarta tidak disahkan oleh pemerintah. Agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan, dan untuk menyelesaikan konflik di tubuh partai berlambang ka'bah ini, Menteri Hukum dan HAM telah menerbitkan SK perpanjangan SK Kepengurusan DPP PPP hasil Muktamar VII Bandung.
Oleh karena itu, kita semua harus tetap optimis bahwa silang pendapat ini akan selesai pada Muktamar VIII untuk Islah yang akan digelar paling lambang April 2016 mendatang. Dan dalam rangka menyikapi situasi tersebut, maka kita semua sudah harus memulai kerja-kerja partai baik secara internal maupun eksternal. 
Mulailah menjalin komunikasi dengan para ulama, tokoh masyarakat, dan ummat bahkan kepada mereka-mereka yang mengaku pengurus PPP yang lainnya. Saya ingatkan kita semua, meskipun partai sedang dalam konflik, tapi silaturrahim harus tetap dijaga. Sebab mereka tetap saudara-saudara kita yang seiman dan seagama. 
Kita harus pahami bahwa, beban kerja kita pada 2019 mendatang sangat berat, sebab pada 2019 mendatang pelaksanaan Pemilu Legislatif bersamaan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Tentunya pola-pola kerjanya akan berbeda dengan pola yang dilakukan selama ini. Artinya tanggungjawab kita tidak hanya untuk memenangkan partai tapi juga memenangkan calon Presiden dan Wakil Presiden yang kita usung nantinya.
"Intinya, kita tidak beloh berlama-lama larut dalam konflik ini, karena memang banyak kerja-kerja yang harus dilakukan, termasuk memperjuangkan kepentingan umat Islam,(***)

H. Fadly Nurzal : LGBT HANCURKAN GENERASI BANGSA


Anggota MPR/DPR RI H. Fadly Nurzal, S.Ag pada acara Rapat 
Dengar Pendapat (RDP) dengan masyarakat di Kota Tanjung
Balai, Sumatera Utara. (Foto/Mursal Harahap)

Anggota MRP/DPR RI H. Fadly Nurzal, S.Ag mengatakan Indonesia Negara yang penduduknya masyoritas umat Islam, saat ini sedang diganggu berbagai pihak, yang mengingkan Indonesia hancur dengan kehilangan rasa nasionlisme, budaya dan kehilangan jatidiri bangsa. Selain ingin menghancurkan Negara ini, gangguan tersebut juga ingin menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia. 

Gangguan-gangguan tersebut dimasukkan ke Indonesia melalui stigma terorisme, narkoba, dan teranyar LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Target utamanya dialamatkan kepada generasi muda Indonesia, sebab jika genarasi mudanya hancur, maka Negara ini secara perlahan akan hancur dengan sendirinya. 

kemudian dikenalkannya budaya hidup yang tak sesuai dengan kearifan budaya bangsa Indonesia dan nilai-nilai ajaran Islam secara tesistematis kepada generasi muda. Mulai dari style hidup bebas, seks bebas dan lain sebagainya.

Khusus LGBT, kata Fadly ini adalah cara yang dilakukan untuk menghancurkan generasi muda bangsa. Batapa tidak jika orang sudah bebas melakukan penikahan sejenis atau transgender, secara otomatis tidak akan ada lagi generasi yang tumbuh dan berkembang. "Kalau seorang laki-laki menikan dengan seorang laki-laki, lalu siapa yang rela mengambil hak untuk mengandung/hamil. Atau mana bisa pernikahan laki-laki dengan laki-laki menghasilkan keterunan?,"ucapnya. 
Oleh karena itu, kata Fadly generasi muda bangsa sejak dini harus diberikan pengetahuan tentang nilai-nilai kehidupan sebagaimana yang terkandung dalam pancasila dan nilai-nilai ajaran agama, khususnya Agama Islam. Karena hanya itulah benteng terkuat untuk melindungi generasi muda bangsa ini dari perilaku-perilaku yang menyimpang tersebut. 
Selain LGBT, Fadly juga menegaskan bahwa narkotika juga bahaya besar bagi bangsa ini. Karena itu, harus dilawas secara bersama-sama oleh seluruh elemen bangsa. 
Fadly menuturkan, bahwa orang mengonsumsi narkoba akan kehilangan kesadaran akal pikiran atas pengaruh narkotika tersebut. Dan orang yang kehilangan kesadaran akal pikiran sama dengan orang yang tidak punya akal. Jika manusia kehilangan akal, maka sesunggguhnya ia sama dengan binatang ternak, bahkan lebih sesat. Seperti Firman Allah dalam Al Qur'an Surah Al A'raf ayat : 7
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat kebesaran (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telingan (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seumpama binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf, 7: 179 )
Fadly mengatakan ada ungkapan yang menyebutkan "Al Insan Hayawan Antiq" artinya manusia adalah hewan yang berfikir. Jika sudah tidak berfikir, maka ia bukan manusia sungguhan. Kondisi manusia tidak berfikir sebagaimana layaknya manusia yang normal terjadi ketika mengonsumsi narkotika. 
Oleh karena itu Fadly mengingatkan para generasi muda agar tidak mendekati narkoba, apalagi menggunakannnya. "Sekali menggunakan narkoba yakinlah hidup kita tidak akan bahagia,"ujarnya. (***)

Sabtu, 20 Februari 2016

Assalamu'Alaikum...!!! SELAMAT BERTEMU LAGI SAHABAT!

Assalamu'alakum Wr.Wb.
SALAM HANGAT...!!!

Setelah sekian lama vakum mengisi, berbagai ocehan dan tweetan serta catatan pinggir di BLOGSPOT ini, tiba-tiba saya tersentak setelah mendengar nasehat singkat dari seseorang yang bernama Abah FN (Fadly Nurzal).
Nasehat disampaikan dalam bentuk pertanyaan, "masih aktif blogspotmu, koq gak ada update-nya?

Nasehat itu langsung menusuk akan pikir dan naluri menulis ku, dan serta merta saya mulai dengan menyapa para sahabat blogger dan sahabat dunia maya.

Untuk semakin menggairahkan ku kembali aktif dan update halaman blogspot ini, saya awali dengan menampilkan dua foto, pertama  foto sendiri yang kata sebagian orang foto ini menggambarkan"saya persis Walikota...."?.

Kedua foto bersama wanita yang begitu saya cintai setelah Ibu ku. Dia adalah istriku tersayang yang telah menemani hidupku selama 12 tahun lebih. Juga telah memberi ku dua putra dan satu putri nan cantik jelita. Dia inilah yang selalu menjadi motor penggerak semangat untuk tetap menjalani kehidupan harus selalu lebih baik dari hari ke hari.

Selamat bertemu dan menguatkan ukhuwah dan silaturahim via dunia maya, dan semoga kita semua menjadi lebih baik di masa mendatang, amin ya robbal alamin.

Mursal Harahap, S.Ag, M. Kom. I