MEDAN

Nasehat...

.“(Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas? Tidak ada yang dapat menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl:79") .“(menang dengan mengalah, itulah filsafat air dalam mengarungi kehidupan") .(Guru yang paling besar adalah pengalaman yang kita lewati dan rasakan sendiri) .(HIDUP INI MUDAH, BERSYUKURLAH AGAR LEBIH DIMUDAHKAN ALLAH SWT)

Bismillahirrahmanirrahim

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas? Tidak ada yang dapat menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl:79)

Jumat, 31 Juli 2009

Menuju Medan-1 ; Tuti Rosmalina Ketua Kohati HMI Cab Medan ; Wali Kota Harus Peduli Nasib Pendidikan Kaum Perempuan

Pada kurun waktu 10 tahun belakangan ini, harus diakui Medan menjelma menjadi sebuah kota modern. Itu ditandai dengan kehadiran berbagai sarana yang mendukung, seperti mall, hotel, dan gedung pencakar langit serta aktivitas perekonomian yang terus berjalan siang dan malam. Namun, masih ada beberapa sector kehidupan yang terkesan tertinggal atau mungkin terabaikan. Itu adalah kesempatan mengenyam pendidikan bagi kaum perempuan. Berdasarkan data yang ada pada tahun 2008, kaum perempuan yang tidak bersekolah di Kota Medan usia 3-15 tahun mencapai 45,76 persen. Kondisi ini sangat tragis dan menyedikan. Hal itu disampaikan Ketua Kohati Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan Tuti Rosmalina, saat dikunjungi KPK Pos di kantornya Jl Adi Negoro Medan, belum lama ini. Menurut Tuti Panggilan akrab mahasiswi IAIN Sumut ini, pendidikan salah satu pilar penting dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tidak terkecuali bagi kaum perempuan juga memiliki hak yang sama. Apalagi, di era modernisasi sekarang ini, kaum perempuan memiliki andil dalam meningkatkan perekonomian keluarga. Terkait hal itu, 2010 mendatang dimana Pilkada Wali Kota Medan dilangsungkan masyarakat diharapkan jeli memilih pemimpin. Khususnya kaum perempuan sebagai pemilih terbanyak diharapkan memilih pemimpin yang berpihak pada peningkatan pendidikan masyarakat. “Kita kaum perempuan harus bersikap tegas dan memilih pemimpin yang akan meningkatkan dan memberi kesempatan lebih besar bagi kaum perempuan mengenyam pendidikan,”ujarnya berharap. Lebih lanjut Tuti mengatakan, dari sisi politik, sebenar suara perempuan sangat menentukan. Sebab jumlahnya lebih besar daripada pemilih kaum laku-laki. Untuk itu perempuan harus memanfaatkan kekuatan politik tersebut dengan memilih pemimpin yang berpihak pada penjaminan hak-hak kaum perempuan. Selain persoalan itu, Tuti juga menyoroti tata ruang kota Medan yang amburadul. Sebagai kota modren, madani dan relegius pola pembangunan Kota Medan seringkali melanggar tata ruang kota yang telah ditetapkan. Akibatnya, selain menuai banjir, kenyamanan dan keasrian kota juga hilang. Belum lagi buruknya keberpihakan pemerintah kota pada penyelamatan lingkungan hidup. “Saat ini Kota Medan dihiasi tumbuhan beton dan halaman keramik, dan itu mengakibatkan daya serap air semakin kecil dan kondisi itu diperparah minimnya keberadaan hutan kota,”ungkapnya. Kemudian, persoalan lain yang menggelayuti kota Medan adalah lemahnya kebijakan pemerintah dalam menyelamatkan – atau bahasa pemerintah menertibkan - para gelandangan, pengemis, pengamen dan anak jalanan. Padahal faktanya, mereka-mereka itu juga bagian dari warga kota Medan yang berhak mendapat perlindungan dan perhatian dari pemerintah kota. Ironisnya lagi, kebanyakan dari mereka masih tergolong anak-anak yang sehrusnya bersekolah. Belum lagi indikasi menyedihkan bahwa anak-anak itu turun ke jalan karena dieksploitasi oknum-oknum yang mengambil keuntungan pribadi. Dari beberapa kondisi itu, kaum perempuan sangat mengharapkan pemimpin kota Medan ke depan benar-benar berbuat dan bekerja untuk rakyat. Majunya pembangunan tidak saja ditandai dari sisi pembangunan fisik kota, tapi juga pembangunan manusianya merupakan hal penting yang harus diutamakan. “Siapapun Wali Kota nantinya, amanah dan kepercayaan kaum perempuan tidak boleh dikerdilkan, apalagi dinapikan. Karena dalam setiap ruh pembangunan terdapat semangat dan keikhlasan kaum perempuan,”ucap Tuti.

Jangan Khianati Amanah Masyarakat

Medan kini sudah memiliki pemimpin yang disebut-sebut akan memberikan perubahan lebih baik. Haparan masyarakat itu kini tergantung dipundak Pj Walikota Medan H Rahudman Harahap yang menggantikan Drs Afifuddin M.Si Pj Walikota sebelumnya. Rahudman dilantik menjadi Pj Walikota Medan, setelah ditetapkan Mendagri atas usulan Gubsu. Pelantikan berlangsung Rabu 22 Juli 2009 di Aula Martabe Kantor Gubsu. Pasca dilantik pro kontra pun bermunculan. Di antaranya dukungan yang disampaikan sejumlah kelompok masyarakat. Bahkan anggota DPRD Sumut jauh-jauh hari sudah mengingatkan Rahudman agar tidak mengecewakan bahkan membuat malu Gubsu. “Jangan sampai Rahudman buat malu Gubsu, karena tidak bisa berbuat banyak selama menjabat Pj walikota Medan,” kata Rafriandi Nasution. Rafriandi juga mengingatkan, selama ini Afifuddin meninggalkan sejumlah permasalahan di antaranya infrastruktur, sampah, dan banjir. Serta tidak terlaksananya restrukturisasi pejabat di Pemko Medan. Karenanya dia Rahudman tidak tumpul menjalankan roda pemerintahan. Menurutnya Rahudman diberikan kepercayaan karena Syamsul tentunya memiliki pertimbangan khusus. Tak mungkin pula Gubsu asal tunjuk. Dibagian lain, kalangan akademisi menyampaikan dukungan kepada Rahudman Harahap Pj walikota Medan. “Saya mendukung terpilihnya Pj Walikota,’ kata dekan fakultas ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU), Jhon Tafbu Ritonga, sembari menambahkan siapapun walikotanya, yang terpenting dapat melaksanakan tugasnya dengan serius. Dengan dilantikannya Pj Walikota Medan, Dosen Pertanian USU, Hasnudi, menghimbau para elit politik legowo menerima keputusan Gubsu dan Mendagri. "Kita perlu mengedepankan terciptanya suasana aman. Ini perlu dilakukan mengingat kota Medan sebagai barometer provinsi Sumatera Utara," katanya. Dibagian lain Anggota DPRD kota Medan, Adi Munasip, mengharapkan, Pj walikota Medan yang baru harus akomodatif, sehingga masyarakat benar-benar mendapatkan pelayanan dengan baik. “Selain pelayanan publik yang banyak menjadi keluhan para warga, juga pembangunan,” ungkapnya. Saat ini kondisi infrastruktur di kota Medan morat marit. Karenanya pergantian Pj Walikota bisa menghadirkan perubahan lebih baik. “Kepemimpinan Afifuddin Lubis dinilai ragu-ragu dan takut. Soal infrastruktur dan pelayanan publik,” ujarnya. Terlepas dari pro kontra tersebut, yang penting masyarakat kini sudah memberikan kepercayaan dan amanah kepada Rahudman Harapan untuk memimin Kota Medan. Untuk itu, kepercayaan dan amanah masyarakat itu jangan sekali-kali dikhianati.

Rabu, 01 Juli 2009

Posisi Rahudman Lebih Diunggulkan

Calon Pj Wali Kota Medan Posisi Rahudman Lebih Diunggulkan : Rahudman Harahap salah satu pejabat yang diusulkan untuk menggantikan posisi Afifuddin sebagai Pj Wali Kota Medan posisinya dikabarkan terus mengungat. Hal itu terlihat dari kriteria yang disampaikan sejumlah fraksi DPRD Kota Medan terkait figur Pj Wali Kota Medan. Meski tidak secara spesifik menyebutkan nama, namun kriteria yang disebutkan mengarah pada sosok Rahudman Harahap. Paling tidak ada lima fraksi di DPRD Medan yang memberikan kriteria dan mengarah kepada Rahudman Harahap. Ahmad Arif SE MM dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) menyebutkan kriteria Pj Wali Kota Medan adalah orang yang memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi. Tegas dalam mengambil kebijakan dan keputusan serta yang paling dibutuhkan memiliki kemampuan. Ini penting dalam rangka memperbaiki citra Pemko Medan yang selama ini dinilai buruk pasca ditinggalkan Abdillah. Lalu Fraksi Partai Damai Sejahtera (FPDS) menyampaikan bahwa sosok Pj Wali Kota ke depan harus orang yang benar-benar fokus memikirkan pembangunan kota Medan. Selama ini, pembangunan di kota Medan terlihat stagnan. Demikian juga dengan pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat tidak lagi maksimal. Infrastruktur kota banyak yang tidak terusur dengan baik, anggaran pembangunan setiap tahunnya banyak yang tidak termanfaatkan sebagaimana mestinya. Siapapun Pj Wali Kota nantinya harus fokus memikirkan pembangunan dan peningkatan pelayanan pada masyarakat, bukan yang lain. Kriteria FPDS ini diperkuat dengan apa yang disampaikan Fraksi Demokrat (FD). Menurut fraksi pemenang pemilu legislatif 2009 di Kota Medan ini, tugas utama Pj Wali Kota ke depan adalah menyelenggarakan Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pilkada). Karena itu, Pj Wali Kota yang akan diangkat tidak boleh memiliki kepentingan dengan Pilkada tersebut. Artinya Pj Wali Kota tersebut tidak memiliki intres pribadi. Sehingga pelaksanaan Pilkada Wali Kota Medan 2010 mendatang benar-benar netral dan tidak disusupi kepentingan apapun. FD mengharapkan Pilkada tersebut berjalan adil, jujur dan demokratis tanpa embel-embel kepentingan dan Pj Wali Kota. Fraksi lain yang memberikan kriteria adalah Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP). Fraksi ini meminta Gubsu dalam menentukan Pj Wali Kota Medan, harus mengacu pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 6 tahun 2005 tentang pemilihan, pengesahan, pengangkatan dan pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, gubernur disyaratkan meminta pertimbangan dewan terkait penetapan Pj Wali Kota. “Kita berharap Gubernur Sumatera Utara tetap mengikuti mekanisme tersebut, demi kemajuan dan peningkatakan pembangunan di Kota Medan,” ucap Ketua FPPP H Ahmad Parlindungan. Dilain pihak, Fraksi Golkar (FG), mengingatkan Gubernur Sumatera Utara dalam hal penetapan PJ Wali Kota Medan. FG meminta Gubernur memberikan hadiah jabatan kepada pejabat yang hendak memasuki masa pensiun. Sebab, yang dibutuhkan masyarakat kota Medan saat ini adalah Pj Wali Kota yang benar-benar mampu berbuat yang terbaik dan tegas dalam bersikap. Berbagai kriteria yang disampaikan sejumlah fraksi tersebut, mengakhiri pro kontra Pj Wali Kota Medan apakah dari pejabat dari luar atau dari dalam Pemko Medan. Karena beberapa minggu belakangan ini muncul wacana terkait sosok Pj Wali Kota Medan yang tepat, pejabat dari luar atau dari dalam Pemko Medan. Lalu berdasarkan apa yang disampaikan fraksi DPRD Kota Medan, arahnya menguatkan posisi Rahudmad Harahap. Sebab dari beberapa catatan yang ada, Rahudman memiliki kriteria tersebut. Sementara terkait adanya persyarakatan Pj Wali Kota Medan ke depan harus mengetahui tekhnis. Rahudman Harahap kepada KPK Pos menyebutkan hal itu memang penting. “Mengetahui tekhnis penting dalam pelaksanakan roda pemerintahan,”ucapnya. Lalu sebagai salah satu calon, apakah mengetahui tekhnis yang dimaksud. Rahudman tidak menjawabnya, namun dia menyebutkan selama berkarir sebagai PNS, dia sudah pernah jadi camat, Kepala Kepala Badan, Kepala Dinas , Sekda sampai terakhir Asisten IV di kantor Gubernur Sumut.

Menuju Medan 1

H Ahmad Arif SE MM : Medan Butuh Pemimpin Kuat dan Berkomitmen Tinggi : Pesta demokrasi warga Kota Medan segera akan dimulai pada April 2010 mendatang. Karena rentang waktu masih setahun lagi, persiapan para calon pemimpin Kota Medan belum terlihat mencolok. Bahkan beberapa tokoh yang berniat akan ikut bertarung merebut kursi Medan-1 masih terkesan ‘malu-malu kucing’ untuk menyampaikan hajat pada masyarakat. Terlepas dari sikap tidak gentle pada bakal calon (Balon)Wali Kota tersebut, ada pertanyaan besar yang menyelimuti warga Kota Medan terkait figur dan karakter balon Wali Kota Medan ke depan. Ini sangat penting agar Kota Medan bisa bangkit melakukan perubahan dan peningkatan pembangunan. Terkait figur dan karakter Wali Kota Medan, KPK Pos berkesempatan wawancara bersama salah satu tokoh muda Kota Medan. Dia adalah H Ahmad Arif SE MM (foto), yang kini masih berstatus anggota DPRD Kota Medan. Berikut petikan wawancaranya. KPK Pos : Kota Medan pasca ditinggalkan Wali Kota Medan H Abdillah AK MBA yang tersandung kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran, Kota Medan sunyi dari perkembangan. Bahkan banyak kalangan menilai Kota Medan mengalami kemunduran. Menurut Pak Arif seperti apa kriteria Wali Kota Medan ke depan? Ahmad Arif (AA) : Ada beberapa kriteria yang harus dimiliki Wali Kota Medan ke depan. Diantaranya memiliki komitmen yang kuat membawa Kota Medan ke perubahan lebih baik. Lalu, memiliki sikap tegas dan berani. Artinya tegas dalam mengambil kebijakan dan berani menindak seluruh aparatnya yang tidak becus menjalankan tugas. “Belakangan kini, banyak pejabat di jajaran Pemko Meda yang tidak serius melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai abdi negara. Wali Kota ke depan harus berani memberikan tindakan tegas. Jika tidak mampu ya diganti saja,” kata AA mencontohkan dibutuhkannya Wali Kota yang tegas dan berani. Selain itu, Wali Kota ke depan juga harus mampu menjaga situasi kondusif. Ini penting, karena Medan sebagai kota wajib memberikan rasa aman kepada masyarakat dan tentunya investor. Kriteria lainnya harus lepas inters pribadi dan kelompok. Dengan kriteria ini, Wali Kota Medan dalam melaksanakan roda pembangunan akan terlepas dari tekanan berbagai pihak. Apakah pengusaha, mafia atau bahkan kepentingan pribadi. KPK Pos : Apakah Wali Kota Medan ke depan harus memiliki pengetahuan tekhnis? Sebab ada sebagain masyarakat menilai, gagalnya Pj Wali Kota Afifuddin Lubis karena minim pengetahuan soal terkhnis. AA : Bagi saya pengetahuan tekhnis itu tidak penting. Sebab Wali Kota kan pemegang kebijakan, sedangkan tekhnis itu sudah tercover oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Lalu terkait program, Wali Kota tinggal menjalankan apa yang sudah digariskan di Rencana Pembangunan Jangka Pendek (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). KPK Pos : Medan merupakan kota yang dihuni warga multi etnis, agama, budaya dan ras. Apa yang harus dilakukan Wali Kota Medan untuk mengayomi dan menyerap aspirasi warganya yang heterogen tersebut. AA : Benar warga Kota Medan multi etnis. Untuk itu, Wali Kota Medan ke depan tentunya harus memiliki telenta merangkul seluruh warganya. Wali Kota ke depan harus siap menerima perbedaan dan itu hanya bisa dilakukan Wali Kota yang punya komitmen tinggi membawa menjadikan warga sejahtera tanpa melihat perbedaan masing-masing. “Menghormati dan melayani setiap warga Medan tanpa melihat warga tersebut datang dari suku mana, etnis mana dan agama mana,” jelas AA. KPK Pos : Wacana Wali Kota Medan berasal dari kaum muda, apakah AA sepakat? AA : Saya sangat sepakat. Karena memang saat ini era-nya kaum muda. Dari berbagai aspek kaum muda tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Sebab kaum muda saat ini memiliki kualitas dan kemampuan yang mumpuni. Jadi tidak ada alasan, kaum muda tidak diberi kesempatan memimpin Kota Medan ke depan. “Itu harus kita dorong, karena kita bagian dari kaum muda,”. KPK Pos : Apakah AA salah satu dari kaum muda itu dan yang akan maju jadi Wali Kota Medan? AA : Insya Allah…..